Minggu, 02 Desember 2012

chord

Chord Gitar Bendera

Intro
 : A Bm C#m D

A                    Bm
Biar saja ku tak seindah matahari
D                       A             E
Tapi selalu ku coba tuk menghangatkanmu
A                    Bm
Biar saja ku tak setegar batu karang
D                       A           E
Tapi selalu ku coba tuk melindungimu

 A Bm C#m D

A                       Bm
Biar saja ku tak seharum bunga mawar
D                       A            E
Tapi selalu ku coba tuk mengharumkanmu
C#m                   D
Biar saja ku tak seelok langit sore
Bm                     A             E
Tapi selalu ku coba tuk mengindahkanmu

      F#m      E        A          D
Ku pertahankan kau demi kehormatan bangsa
      F#m      E        D 
Ku pertahankan kau demi tumpah darah
   B                   E
Semua pahlawan-pahlawanku

Back to Intro

  A            E             F#m    E
Merah putih teruslah kau berkibar
     D           C#m          Bm         E
 Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini
  A            E             F#m    E
 Merah putih teruslah kau berkibar
     D           C#m          Bm         E
 Di ujung tiang tertinggi di indonesiaku ini
     F#m        E           A
 Merah putih teruslah kau berkibar
    D           E     D
 Ku akan selalu menjagamu

chord


Chord angka laskar pelangi

5 3 2 1 2 3 1
 Mimpi adalah kunci

2 1 5 3 2 1 2 3 1 2 3
 Untuk kita menaklukkan dunia

1 5 1 1 1 5 1 1
 Berlarilah tanpa lelah

1 5 1 1 1 5 1 2
Sampai engkau meraihnya

5 3 2 1 2 3 1 5 5 3 2 1 2
Laskar pelangi takkan terikat waktu

1 5 1 1 1 1 1 5 1 1 2
Bebaskan mimpimu di angkasa

5 4 3 1 4 3 1 12
Warnai bintang di jiwa

Reff:

 1 2 3 5 3 2 1 2 3 5
Menarilah dan terus tertawa

1 2 3 5 3 3 7 1 7 5
Walau dunia tak seindah surga

1 7 6 5 1 5 5 4 3 2
Bersyukurlah pada Yang Kuasa

 1 7 65 1 5 5 4 3 2 1
Cinta kita di dunia selamanya

Lirik berikutnya not angka sama dengan di atas
Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita
Laskar pelangi takkan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
Jutaan mimpi di bumi

Selasa, 06 November 2012

SEBELUM PRAMUKA



Pada siang hari di SMP N 2 Mlati. Aku, Bachrul, Sekar, dan Rohmah sedang menunggu waktu Pramuka. Lalu Rohmah meminjam ponsel saya, ternyata Rohmah meminjam ponsel saya untuk merekam video, Rohmah mereka aku, Bachrul, dan Sekar yang sedang tendang-tendangan dengan kuas cat.
Saat itu aku dan Bachrul melawan Sekar, dan saat itu lah Rohmah merekam peristiwa itu. Rohmah merekam melewati Sekar lalu melewati aku dan Bachrul, tiba-tiba Sekar menyenggol Rohmah dan GUBRAKKK !!!!!!!!!!!!! terjatuh lah ponsel saya lalu kami tertawa terbahak-bahak sambil menyalahkan Sekar. Rohmah pun masih merekam video itu.
Kemudian Rohmah merekam Bachrul, dan dia pun beraksi layaknya seperti artis yang sedang diwawancarai.
“Saya Bachrul Rosyid Zaini atlet basket,”
“Saya lahirnya di Indonesia,” jawab Bachrul dengan percaya diri.
Rohmah pun masih merekam Bachrul sampai memberikan kuas cat sebagai microphone.
“Saya itu sudah main basket di PSS,” kata Bachrul dengan gaya yang aneh.
“Itu sepak bola Mas…,” balas Rohmah dengan kebingungan.
“Nah saya itu dulu cuman anak miskin, miskin banget kan dulu saya itu punya Verari 5, helipkoter 10, BlackBerry itu enggak kehitung, saya itu sangat miskin ssampai saya itu punya kucing anggota,” kata Bachrul panjang lebar .
Kami pun tertawa karena yang diucapkan adalah anggota seharusnya kucing anggora. Lalu Bachrul memberikan kuas catnya pada saya.
“Nah pemirsa sekarang saya akan menceritakan kehidupan saya,”
“Saya itu orangnya tampan, baik, sopan, rajin menabung, dan imut tidak seperti mereka berdua ,”
“Nah pemirsa saya akan menunjukan keahlian taekwondo, saya membutuhkan sukarelawan untuk saya pukul,” lanjut Bachrul dengan percaya diri.
Kemudian aku dan Sekar pun lari ke tempat parkiran sekolah untuk bersembunyi dari Bachrul. Sekar bersembunyi di balik tembok sedangkan aku bersembunyi di kantin sekolah.
“Ini sekolahmu di tunjukan,” kata Rohmah dengan lantang.
“Ya, ini adalah sekolah saya yang membangun saya karena saya miskin sekali,” jawab Bachrul dengan menunjukan sekolahnya.
“Dan ini adalah ruang kelas  8C,” kata Rohmah sang reporter.
“Ya, pemirsa,” kata Bachrul.
“Sebentar ! pemirsa-pemirsa terus,” jawab Rohmah dengan suara keras dan amarah.
Kemudian Rohmah juga menunjukan ruang kelas 8B, 8A. Lalu Bachrul mengambil tas dan tongkat pramuka ku, kemudian dia pergi ke tempat parkiran sekolah untuk mencari aku dan Sekar. Setelah Bachrul menemukan aku dan Sekar kami gila-gilaan bersama. Lalu aku menunjukan sedikit gerakan senam ku, Bachrul pun juga menunjukan sedikit gerakan taekwondonya. Kemudian Bachrul ingin menunjukan aksi memecahkan batu bata dia membutuhkan sukarelawan untuk memegangi bata tersebut.
Sekar lah yang menjadi sukarelawan itu, dia memegangi bata itu dan......TARRR !!!!!!!!!!! terbelah lah bata itu menjadi 2, tetapi Sekar menjerit kesakitan entah mengapa hingga tangannya merah. Lalu Sekar mencari air untuk mendinginkan tangannya yang merah, lalu Sekar berlagak seperti orang gila.
“Kimi apa susahnya ngomong?,” Tanya Bachrul ke Sekar.
“Aku enggak punya pulsa,” jawab Sekar.
“Kimi aku galau tanpamu,” kata Bachrul.
“Apa? Kamu galau?,”jawab Sekar sambil tertawa.
“mawar maafin marwan ya?,” Tanya Bachrul ke aku.
“Enggak boleh,” jawab ku.
“Kenapa enggak boleh,” Tanya Bachrul.
“Karena aku enggak punya pulsa,” kata Rohmah menggantikan aku.
“Qoid ?,” Tanya Bachrul.
“iya,” jawab ku.
“ada yang baru loh,” Tanya dia lagi.
“Apa ?,” jawab ku kembali.
“itu gigimu,” jawab Rohmah menggantikan aku lagi.
Dan aku pun tertawa terbahak-bahak, lalu tiba-tiba Sekar melaju menggunakan sepeda orang lain melewati aku, Bachrul, dan Rohmah. Sekar melaju dengan kencang sekali.
“Mari kita kejar !!,” kata Rohmah sambil berlari mengejar Sekar.
“Woy……balik !!,” sahut Rohmah lagi.
“Hallo pak warno mau pulang pak ?,” Tanya Rohmah.
“iya,” jawab pak warno.
“Ya ampun kamu masih merekam saja,” Tanya Bachrul .
TAMAT
                                                                      Karya : Qoid Tsaqib Hasan
                                                                                   IX A / 19

Kepedihanku


Setiap hari kuteteskan air mata ini
Hari demi hari kulalui
Eejekan demi ejekan kudengar
Aku memeng tidak sempurna

Aku memang tidak seperti anak lainnya
Aku hanyalah seseoramg yang tak berguna
Aku seperti sampah yang tak berarti
Diterlantar kan di jalan atau temat sampah

Aku mencoba untuk selalu sabar
Memendam perasaan yang sangat sakit
Tetapi hatiku tidak bisa menampung semua kesabaran ku
Rasanya ingin ku tumahkan  perasaanku ini

Aku yakin tuhan memiliki maksud dari semua ini
Aku percaya pada tuhan
Aku juga yakin tuhan itu maha adil
Terimakasih tuhan