Pada siang hari di SMP N 2
Mlati. Aku, Bachrul, Sekar, dan Rohmah sedang menunggu waktu Pramuka. Lalu
Rohmah meminjam ponsel saya, ternyata Rohmah meminjam ponsel saya untuk merekam
video, Rohmah mereka aku, Bachrul, dan Sekar yang sedang tendang-tendangan
dengan kuas cat.
Saat itu aku dan Bachrul
melawan Sekar, dan saat itu lah Rohmah merekam peristiwa itu. Rohmah merekam
melewati Sekar lalu melewati aku dan Bachrul, tiba-tiba Sekar menyenggol Rohmah
dan GUBRAKKK !!!!!!!!!!!!! terjatuh lah ponsel saya lalu kami tertawa
terbahak-bahak sambil menyalahkan Sekar. Rohmah pun masih merekam video itu.
Kemudian Rohmah merekam
Bachrul, dan dia pun beraksi layaknya seperti artis yang sedang diwawancarai.
“Saya Bachrul Rosyid Zaini
atlet basket,”
“Saya lahirnya di Indonesia,”
jawab Bachrul dengan percaya diri.
Rohmah pun masih merekam
Bachrul sampai memberikan kuas cat sebagai microphone.
“Saya itu sudah main basket di
PSS,” kata Bachrul dengan gaya yang aneh.
“Itu sepak bola Mas…,” balas
Rohmah dengan kebingungan.
“Nah saya itu dulu cuman anak
miskin, miskin banget kan dulu saya itu punya Verari 5, helipkoter 10,
BlackBerry itu enggak kehitung, saya itu sangat miskin ssampai saya itu punya
kucing anggota,” kata Bachrul panjang lebar .
Kami pun tertawa karena yang
diucapkan adalah anggota seharusnya kucing anggora. Lalu Bachrul memberikan
kuas catnya pada saya.
“Nah pemirsa sekarang saya
akan menceritakan kehidupan saya,”
“Saya itu orangnya tampan,
baik, sopan, rajin menabung, dan imut tidak seperti mereka berdua ,”
“Nah pemirsa saya akan
menunjukan keahlian taekwondo, saya membutuhkan sukarelawan untuk saya pukul,”
lanjut Bachrul dengan percaya diri.
Kemudian aku dan Sekar pun
lari ke tempat parkiran sekolah untuk bersembunyi dari Bachrul. Sekar bersembunyi
di balik tembok sedangkan aku bersembunyi di kantin sekolah.
“Ini sekolahmu di tunjukan,”
kata Rohmah dengan lantang.
“Ya, ini adalah sekolah saya
yang membangun saya karena saya miskin sekali,” jawab Bachrul dengan menunjukan
sekolahnya.
“Dan ini adalah ruang
kelas 8C,” kata Rohmah sang reporter.
“Ya, pemirsa,” kata Bachrul.
“Sebentar ! pemirsa-pemirsa
terus,” jawab Rohmah dengan suara keras dan amarah.
Kemudian Rohmah juga
menunjukan ruang kelas 8B, 8A. Lalu Bachrul mengambil tas dan tongkat pramuka
ku, kemudian dia pergi ke tempat parkiran sekolah untuk mencari aku dan Sekar.
Setelah Bachrul menemukan aku dan Sekar kami gila-gilaan bersama. Lalu aku
menunjukan sedikit gerakan senam ku, Bachrul pun juga menunjukan sedikit
gerakan taekwondonya. Kemudian Bachrul ingin menunjukan aksi memecahkan batu
bata dia membutuhkan sukarelawan untuk memegangi bata tersebut.
Sekar lah yang menjadi
sukarelawan itu, dia memegangi bata itu dan......TARRR !!!!!!!!!!! terbelah lah
bata itu menjadi 2, tetapi Sekar menjerit kesakitan entah mengapa hingga
tangannya merah. Lalu Sekar mencari air untuk mendinginkan tangannya yang merah,
lalu Sekar berlagak seperti orang gila.
“Kimi apa susahnya ngomong?,”
Tanya Bachrul ke Sekar.
“Aku enggak punya pulsa,”
jawab Sekar.
“Kimi aku galau tanpamu,” kata
Bachrul.
“Apa? Kamu galau?,”jawab Sekar
sambil tertawa.
“mawar maafin marwan ya?,”
Tanya Bachrul ke aku.
“Enggak boleh,” jawab ku.
“Kenapa enggak boleh,” Tanya
Bachrul.
“Karena aku enggak punya
pulsa,” kata Rohmah menggantikan aku.
“Qoid ?,” Tanya Bachrul.
“iya,” jawab ku.
“ada yang baru loh,” Tanya dia
lagi.
“Apa ?,” jawab ku kembali.
“itu gigimu,” jawab Rohmah
menggantikan aku lagi.
Dan aku pun tertawa
terbahak-bahak, lalu tiba-tiba Sekar melaju menggunakan sepeda orang lain melewati
aku, Bachrul, dan Rohmah. Sekar melaju dengan kencang sekali.
“Mari kita kejar !!,” kata
Rohmah sambil berlari mengejar Sekar.
“Woy……balik !!,” sahut Rohmah
lagi.
“Hallo pak warno mau pulang
pak ?,” Tanya Rohmah.
“iya,” jawab pak warno.
“Ya ampun kamu masih merekam
saja,” Tanya Bachrul .
TAMAT
Karya : Qoid Tsaqib Hasan
IX A / 19